Senin, 09 April 2012

Tulisan Seseorang pada Komentarnya Lebih Mencerminkan Jati Dirinya

gara- gara kejadian sekitarku yang sering ribut2 di fb bahkan samapai ribut di dunia nyata, aku jadi tertarik mengulas ini. 

Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, facebook semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau aktifitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus.

Tapi ada pula user yang menjadikan statusnya sebagai curhatan dan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna dibalik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula facebooker yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, facebook tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya. Maka facebook, seperti sebilah pisau bermata dua. Bisa dibilang “STATUS FBMU…HARIMAUMU atau bisa juga STATUS FB KAMU…HARGA DIRIMU”.

Kelalaian selanjutnya adalah kelalaian terhadap bahaya lisan. Padahal sudah mafhum bahwa mulutmu adalah harimaumu. Betapa banyak orang yang celaka karena tergelincir lidahnya, pun tidak disengaja. Mulai dari canda yang tidak selayaknya hingga umpatan yang menyakitkan. Parahnya lagi, kata-kata yang terungkap adalah bukti tertulis yang tidak dapat hilang begitu saja. Dan ketika setiap kata dan aktifitas menjadi konsumsi publik, seketika itu pula sebagian aib kita akan terungkap.

facebook ibarat pisau yang manfaat atau mudharatnya tergantung penggunaannya, tulisan ini tidak hendak mengharamkan facebook yang memang tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya. Namun, lebih mengingatkan untuk lebih bijaksana dalam menggunaannya, termasuk waspada terhadap berbagai potensi kelalaian yang ada didalamnya dan berbagai potensi pembenaran yang menyertainya.

Facebook tetap bisa menjadi sarana silaturahim, memperkaya jaringan yang akan berguna untuk masa depan hingga menjadi sarana penyebar kebaikan dan kebermanfaatan. Namun bagaimanapun, pisau adalah benda tajam yang berbahaya. Jika tidak perlu dan digunakan untuk hal yang bermanfaat, sepertinya lebih bijak untuk tidak menggunakannya.

Tulisan Komentar di FB Lebih Menunjukkan SIAPA KAMU dibanding Statusnya. Oleh karena itu, jika ente/antum/sampeyan membaca status ana yang kerasa tidak diperkenan mengenai ormasnya/kelompoknya dan lainnya, kalau bisa jangan dibalas dengan tajam pula. Kontra tidak dilarang, apalagi jika di-reply dengan bahasa baik. Pintu tetap terbuka. Tapi jika dikomentari dengan tajam, apalagi berirama murka, terima kasih telah masuk ke jaring status. Anda mendaftar diri dari ‘kelinci-percobaan’.

Kemudian:
Remember, penulisan status dan komentar itu berbeda. Konsiderasi fikiran pada penulisan status relatif lebih dikerahkan daripada penulisan komentar. Maksudnya, komentar di FB itu justru lebih MENCERMINKAN seseorang dibanding statusnya.
Kita pelajari ini. Mana saja individu yang asal njeplak ngomong ketika berkomentar di status orang, namun ketika bikin status sendiri jauh beda bahasanya. Ada juga yang menulis status selalu serius, namun ketika komentar tidak pernah serius. Status kurang mencerminkan kepribadian seseorang, tapi justru ‘komentar’, itu lah yang lebih mencerminkan. Karena seringkali datang secara spontan, tanpa berfikir. Dan spontanitas seringkali mewujudkan karakter asli seseorang, right?
Ini belum disadari banyak orang.
Bagi yang membaca hal2 di atas, dan merasa sudah pernah kena jebakan, jangan emosi atau membenci, I am still your brother…saudaramu yang tak terjaga bersih dari kesalahan.
Kita hanya ingin belajar sesuatu yang ‘lebih’.
Hampir semua manusia mampu berikan ekspresi muka; memaniskan dan mengasamkan. Dan tidak semua manusia mampu perbaiki ekspresi kalimat; memaniskan dan mengasamkan.
Karena setiap manusia yang punya mata hampir tiap jam selalu melihat muka orang, sehingga sadar-tidak-sadar ia bisa meniru mimik; terlebih pada ekspresi yang dia sukai; meskipun tidak sama persis.
Namun berbeda halnya dengan ekspresi tulisan. Ini tidak ringan. Karena orang yang mampu mempercantik bahasa tulisannya menjadi manis adalah yang sering membaca. Dan kita tahu, kebanyakan manusia ‘kurang’ membaca kalimat, tapi tiap jam membaca ‘wajah’.
Maka statement “Muka aja bisa dimanis-manisin, apa lagi cuma tulisan” itu invalid. Kalau tulisan itu mudah untuk dimanis-maniskan, maka apakah kebanyakan orang yang malas baca sekarang ini bisa bersyair indah? I don’t think so.

Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang lebih baik,,, aku sendiri masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kita selalu istiqomah di jalan Nya… 

sumber : http://ciptoabiyahya.wordpress.com/2012/01/31/tulisan-seseorang-pada-komentarnya-lebih-mencerminkan-jati-dirinya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar