Senin, 10 September 2012

Fenomena Lepas Jilbab Di Jejaring Sosial



Ironis memang muslimah rela melepas jilbabnya hanya untuk dipertontonkan di jejaring social. Entahlah apa alasannya, mungkin ingin mengatakan pada dunia “inilah aku, aku cantikkan?” padahal setiap keluar rumah selalu memakai jilbab. Melepas jilbab di jejaring social bukanlah barang yang langka, mungkin sudah menjadi hal yang biasa dan lumrah. Aurat yang sudah terbungkus rapih di dunia nyata disediakan dengan bebas oleh pemiliknya di dunia maya. Para pria yang tadinya tidak bisa melihat rambut para muslimah malah diberi akses untuk benar- benar melihatnya, siapa saja dengan bebas. Jika kita berjalan keluar rumah tanpa memakai jilbab dosa kita akan mengalir sampai kita kembali kerumah, sama halnya dengan kita mengumbar aurat di depan umum, ketika foto kita tanpa jilbab terpasang dan dapat di akses bebas oleh siapapun, dosa akan mengalir walaupun ketika kita sedang tidur bahkan ketika kita sudah mati…ya dosa jariyah… hanya karena memajang foto yang kita anggap iseng tetapi akibatnya bukan main- main.
Ingat lelaki baik- baik untuk wanita baik- baik begitupun sebaliknya, jadi jika ingin memikat lelaki bukan dengan cara melepas jilbab, tapi perbaiki diri dan percantik diri tentunya juga hatinya. Nah buat yang hobi masang foto lepas jilbab coba deh berpikir ulang lagi. Ingat kecantikan ragawi itu takan abadi. Sayangkan kecantikan yang hanya diperuntukan suami kelak malah disediakan gratis untuk orang- orang yang tidak berhak. Kasian suami kita kelak karena tak ada lagi yang istimewa dari kita, bukan hanya suami yang bebas melihat aurat kita tetapi siapapun dapat menikmatinya. Berbangglah dengan jilbab kita, seperti seorang ratu yang bangga dengan mahkotanya. Jagalah kehormatan kita sebagai wanita muslimah baik di dunia nyata maupun dunia maya, seperti istri yang menjaga kehormtannya dan menjaga dirinya walau suami tidak ada di rumah. 

MUSLIM WOMEN… WE ARE QEENS..


Bertingkahlah seperti ratu dan kau akan memikat seorang raja. Sebenarnya bukan hanya islam yangmengajarkan tentang penutup kepala. Pada jaman dahulu penutup kepala adalah symbol untuk wanita terhormat. Beberapa literature ditemukan bahwa wanita yang dianggap TIDAk pantas menggunakan penutup kepala adalah mereka yang akan dihukum mati atau mereka wanita asusila.

Pada jaman kerajaan para wanita dari kalangan bangsawan diperlakukan khusus. Jika pernah menonton drama historical korea para ratu dan putri raja akan ditempatkan di istana yang tertutup aksesnya dari kaum pria. Hanya raja yang bebas keluar masuk di sana. Intinya wanita milik raja hanya untuk raja.

Jadi mengapa Allah mewajibkan kita untuk menutup aurat, karena kita adalah makhluk yang istimewa, tidak sembarang orang bisa melihat kecantikan kita. Para muslimah adalah wanita terhormat maka Allah mewajibkan kita melindungi kecantikan dari pandangan- pandangan tak baik. Selayaknya ratu yang hanya diperuntukan sang raja, Allah memerintahkan para istri berdandan hanya untuk suaminya.

Wanita memang akan terlihat lebih cantik ketika berjilbab, tapi yang paling penting memakai jilbab jangan hanya karena ingin terlihat cantik saja. Tapi pakailah jilbab karena ALLAH karena itu adalah kewajiban setiap muslimah. Bukankah kita harus mendahulukan kewajiban baru meminta hak???? Tidak ada alasan siap atau tidak siap dalam melaksanakan kewajiban, karena saat kematian datang dia pun tak akan bertanya kita siap atau tidak. 

Senin, 09 April 2012

Tulisan Seseorang pada Komentarnya Lebih Mencerminkan Jati Dirinya

gara- gara kejadian sekitarku yang sering ribut2 di fb bahkan samapai ribut di dunia nyata, aku jadi tertarik mengulas ini. 

Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, facebook semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau aktifitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus.

Tapi ada pula user yang menjadikan statusnya sebagai curhatan dan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna dibalik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula facebooker yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, facebook tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya. Maka facebook, seperti sebilah pisau bermata dua. Bisa dibilang “STATUS FBMU…HARIMAUMU atau bisa juga STATUS FB KAMU…HARGA DIRIMU”.

Kelalaian selanjutnya adalah kelalaian terhadap bahaya lisan. Padahal sudah mafhum bahwa mulutmu adalah harimaumu. Betapa banyak orang yang celaka karena tergelincir lidahnya, pun tidak disengaja. Mulai dari canda yang tidak selayaknya hingga umpatan yang menyakitkan. Parahnya lagi, kata-kata yang terungkap adalah bukti tertulis yang tidak dapat hilang begitu saja. Dan ketika setiap kata dan aktifitas menjadi konsumsi publik, seketika itu pula sebagian aib kita akan terungkap.

facebook ibarat pisau yang manfaat atau mudharatnya tergantung penggunaannya, tulisan ini tidak hendak mengharamkan facebook yang memang tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya. Namun, lebih mengingatkan untuk lebih bijaksana dalam menggunaannya, termasuk waspada terhadap berbagai potensi kelalaian yang ada didalamnya dan berbagai potensi pembenaran yang menyertainya.

Facebook tetap bisa menjadi sarana silaturahim, memperkaya jaringan yang akan berguna untuk masa depan hingga menjadi sarana penyebar kebaikan dan kebermanfaatan. Namun bagaimanapun, pisau adalah benda tajam yang berbahaya. Jika tidak perlu dan digunakan untuk hal yang bermanfaat, sepertinya lebih bijak untuk tidak menggunakannya.

Tulisan Komentar di FB Lebih Menunjukkan SIAPA KAMU dibanding Statusnya. Oleh karena itu, jika ente/antum/sampeyan membaca status ana yang kerasa tidak diperkenan mengenai ormasnya/kelompoknya dan lainnya, kalau bisa jangan dibalas dengan tajam pula. Kontra tidak dilarang, apalagi jika di-reply dengan bahasa baik. Pintu tetap terbuka. Tapi jika dikomentari dengan tajam, apalagi berirama murka, terima kasih telah masuk ke jaring status. Anda mendaftar diri dari ‘kelinci-percobaan’.

Kemudian:
Remember, penulisan status dan komentar itu berbeda. Konsiderasi fikiran pada penulisan status relatif lebih dikerahkan daripada penulisan komentar. Maksudnya, komentar di FB itu justru lebih MENCERMINKAN seseorang dibanding statusnya.
Kita pelajari ini. Mana saja individu yang asal njeplak ngomong ketika berkomentar di status orang, namun ketika bikin status sendiri jauh beda bahasanya. Ada juga yang menulis status selalu serius, namun ketika komentar tidak pernah serius. Status kurang mencerminkan kepribadian seseorang, tapi justru ‘komentar’, itu lah yang lebih mencerminkan. Karena seringkali datang secara spontan, tanpa berfikir. Dan spontanitas seringkali mewujudkan karakter asli seseorang, right?
Ini belum disadari banyak orang.
Bagi yang membaca hal2 di atas, dan merasa sudah pernah kena jebakan, jangan emosi atau membenci, I am still your brother…saudaramu yang tak terjaga bersih dari kesalahan.
Kita hanya ingin belajar sesuatu yang ‘lebih’.
Hampir semua manusia mampu berikan ekspresi muka; memaniskan dan mengasamkan. Dan tidak semua manusia mampu perbaiki ekspresi kalimat; memaniskan dan mengasamkan.
Karena setiap manusia yang punya mata hampir tiap jam selalu melihat muka orang, sehingga sadar-tidak-sadar ia bisa meniru mimik; terlebih pada ekspresi yang dia sukai; meskipun tidak sama persis.
Namun berbeda halnya dengan ekspresi tulisan. Ini tidak ringan. Karena orang yang mampu mempercantik bahasa tulisannya menjadi manis adalah yang sering membaca. Dan kita tahu, kebanyakan manusia ‘kurang’ membaca kalimat, tapi tiap jam membaca ‘wajah’.
Maka statement “Muka aja bisa dimanis-manisin, apa lagi cuma tulisan” itu invalid. Kalau tulisan itu mudah untuk dimanis-maniskan, maka apakah kebanyakan orang yang malas baca sekarang ini bisa bersyair indah? I don’t think so.

Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang lebih baik,,, aku sendiri masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kita selalu istiqomah di jalan Nya… 

sumber : http://ciptoabiyahya.wordpress.com/2012/01/31/tulisan-seseorang-pada-komentarnya-lebih-mencerminkan-jati-dirinya/

Jumat, 30 Maret 2012

Catatan seorang anak Adam yang sedang galau menjelang malam minggu. ^_^

Seorang temanku berkata “neng pake jilbab atuh biar tambah cantik”, tapi aku menjawab “nanti ah kalo udah siap mau menjilbabi hati dulu aja, lagian ga betah panas”, lalu temanku menjawab “panas mana dengan api neraka?”, aku jawab, ”mana ku tau, aku belum pernah jalan- jalan ke neraka, hehehehe”.
Awalnya aku memakai jilbab adalah suatu keharusan dari tempat di mana aku belajar, tapi lama- kelamaan kesadaran itu mulai tumbuh seiring berjalan waktu, kadang aku berpikir sampai kapan aku menunggu siap, jika tidak pernah mencoba kapan aku bias siap, bahkan sampai matipun kata siap itu belum tentu ada kalau tak pernah mencoba, padahal itu sebuah kewajiban untuk seorang muslimah tanpa terkecuali, kita tidak bisa memilih menjadi wanita tapi kita bisa memilih menjadi wanita baik atau wanita pengumbar maksiat. Dulu aku berpendapat “saya mau menjilbabi hati saya dulu”, padahal di dalam Al- Qur’an pun kewajiban menutup aurat pun ada. Kenapa kita selalu meminta hak padahal kewajiban saja tidak kita penuhi. Saat  aku sudah memutuskan untuk menjalankan kewajiban seorang wanita yaitu menutup aurat maka aku bukan hanya menjaga aurat, tetapi secara naluri aku mulai menjaga perkataan dan perbuatanku dari hal-hal yang buruk, bukan gengsi atau malu pada orang- orang sekitar tapi malu pada kain yang menutupi diri. Aku  belum menjadi wanita muslimah yang baik tapi setidaknya aku mau dan selalu ingin menjadi lebih baik. Walau tak jarang ada yang mencemooh tapi itu tak membuatku menjadi ragu, bagi seorang wanita bagaimana aku bias mendambakan sosok imam yang baik untuk hidupku jika diriku sendiri bukan wanita baik- baik, padahal Allah menjanjikan wanita baik- baik hanya untuk lelaki baik- baik pula. Sedangkan perbuatan baik atau buruk itu urusan makhluk dengan Tuhannya.
Mungkin yang kenal aku dari dulu sampai sekarang akan merasa heran seorang fina yang suka berantem, wanita tomboy yang membenci warna pink, dan ga pernah pake rok kecuali waktu sekolah, sekarang berubah menjadi pinkers, selalu memakai rok, dan ga pernah lagi ada cerita aku berantem. Yah selembar kain yang membuatku ingin menjadi wanita lebih baik, bukan buat orang lain tapi diri sendiri. Aku mulai nyaman dengan aku yang sekarang dan aku menikmati itu.